Thursday, August 7, 2014

Brigjen Pol Arief Sulistyanto Lahir untuk Mengabdi

Menjadi kaya dan berlimpah harta itu pilihan. Apalagi bagi orang yang memiliki kapasitas diri, jaringan dan otoritas atau kuasa. Setidaknya, itulah kesan ketika wawancara tiga jam dengan Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto. Baginya, harta bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Orang harus punya Positioning, Diferensiasi, and Brand. Dalam bahasa sederhananya, punya karakter dan jati diri. 
Lahir dari keluarga pendidik. Ayah, Mardjono, guru agama di STMD. Ibu, Hj Halimah Saadiyah, ibu rumah tangga. Arief nomor dua dari lima bersaudara.Ia menamatkan sekolah dari SD hingga SMA di Nganjuk, Jawa Timur. Namun, bukan perkara mudah menyelesaikan sekolah. Arief harus tinggal dari satu paman ke paman lainnya. Sebab, pada usia 13 tahun, sang ayah meninggal dunia Arief masih tergolong kecil, ketika sang ayah meninggal dunia. Tak banyak gambaran tentang sosok ayahnya. Selain, ayah orang yang sabar, tidak pernah marah, dan selalu memberikan nasehat. Karakter ibu, orang yang jujur. “Ibu selalu mengajarkan, orang harus bekerja dengan benar,” kata Arief. Masalah biaya membuat Arief harus berpikir ulang, ketika ingin melanjutkan kuliah. Karenanya, ketika lulus SMA jurusan IPA, dia langsung daftar ke Akabri. Ketika ambil ijasah SMA di sekolahnya, gurunya berseloroh, “Badan kamu kurus begitu. Mana bisa diterima.” Arief mendaftar di Kodam Brawijaya, Jawa Timur.Dalam test itu, nyatanya, Arief merupakan satu-satunya siswa dari Kabupaten Nganjuk yang diterima masuk Akabri tahun 1987. Semua tak menyangka. Termasuk dirinya.Ketika itu, empat angkatan masih menyatu. Akabri Darat, Laut, Udara dan Kepolisian. Arief memilih Akabri Darat sebagai pilihan pertama. Pilihan kedua, Angkatan Udara. Ketiga, Angkatan Laut. Keempat, Kepolisian. Arief acak saja dalam memilih. Dia tak memilih Angkatan Laut. Alasannya? Rumahnya jauh dari laut. Tak ada gambaran tentang laut. Begitu pun dengan Kepolisian. Setelah test selama empat bulan di Magelang, dia diterima di Kepolisian. Arief masuk pendidikan di Akpol, Semarang. Setelah mengikuti pendidikan di Semarang, Arief lulus Akpol, menempati rangking empat. Ada aturan tak tertulis di Akpol, mereka yang lulus 10 besar, bisa memilih penempatan. Biasanya orang bakal memilih penempatan di kota besar, seperti Jakarta. Karir lebih cepat naik. Namun, Arief memilih bertugas di Jawa Timur. Alasannya, lebih dekat dengan keluarga besarnya. Tugas pertama Arief sebagai polisi, dimulai sebagai Pamapta Polresta Surabaya Selatan. Setahun kemudian, pindah ke Kanit Serse. Tahun 1999, menjabat sebagai Wakasat Serse. Naik pangkat Lettu (red; saat itu kepangkatan masih sama dengan TNI), Arief dipindahkan ke Malang, Jawa Timur sebagai Kasatserse, Polres Malang. Dia bertindak tegas dan menyapu para pelaku pencurian kendaraan bermotor. Arief dapat penghargaan. Kebetulan, tahun 1991, terjadi kerusuhan. Sebuah gereja di Nguling, Sidoarjo dibakar. Jajaran Polres Sidoarjo, mulai dari Kapolres, Kasatserse, dan petinggi lainnya dicopot, karena insiden tersebut. Arief dipindah ke Sidoarjo sebagai Kasatserse. Sebagai Kapolresnya, Sutanto, mantan Kapolri. Di sinilah, peran Arief sebagai “pemadam kebakaran” terlihat. Ketika peran polisi dianggap lemah di masyarakat, dia berhasil menegakkan supremasi hukum dan mengembalikan peran polisi di wilayah yang sedang berkonflik tersebut.

Tugas di Sidoarjo dia selesaikan dengan baik.Selanjutnya, 1993, Arief menempati Polres Pasuruan, Jawa Timur, sebagai Kasat Serse. Tahun 1995, Arief masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta.

Dia lulus dan mendapat rangking lima besar.Setiap lulusan 10 besar, dapat penempatan di Jakarta. Arief sudah membayangkan, bakal di tempatkan di Jakarta. Ternyata, hasilnya jauh panggang dari api. Dia malah diminta mengajar di PTIK. Apa boleh buat. Semua harus dikerjakan dengan ikhlas. Dan dia menerima itu. 

Kehidupan Keluarga
Ketika mendapat tugas sebagai Kasatserse di Jawa Timur, Arief meminang Niken Manohara. Pasalnya, keduanya sudah pacaran tujuh tahun. “Kalau ditunda lagi, kasihan anak-anak nanti,” kata Arief.

Niken keluarga polisi. Ayah, kakak dan adiknya, semua polisi. Ketika itu, Niken sedang kuliah kedokteran di Surabaya. Setelah menikah, dia pindah kuliah kedokteran di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Anak pertama, Bhredipta Cresti Socarana, tanggal lahirnya sama dengan nama kampus tersebut, 11 Maret.

Niken tipe perempuan yang mengerti tugas suami. Menjadi istri polisi, berarti harus siap nomaden atau pindah-pindah tempat. Karenanya, ketika dia selesai pendidikan sebagai dokter dan menjadi PNS, Arief memintanya melamar sebagai dokter di lingkungan polisi.

Sehingga ketika pindah ke mana pun, keduanya tetap bisa bersama-sama. Arief merasa nyaman dengan tipikal sang istri. Perempuan yang bisa menerima keadaan sang suami. Tidak mau minta sesuatu yang lebih.

Dia merasa cukup dengan gaji sebagai dokter, dan gaji suami sebagai polisi. Keduanya sudah punya komitmen. Menjalani hidup dengan sederhana. Apa adanya.

Sehingga tak perlu mencari sesuatu secara berlebihan. Yang mengakibatkan, suaminya harus melakukan suatu tindakan menyimpang. “Itu yang membuat kita kerja tenang, dan tidak perlu melakukan sesuatu yang menyimpang,” kata Arief.

Dalam mendidik anak, keduanya juga sepakat bahwa, anak harus diberikan dasar agama yang kuat. Sehingga ketika dewasa, tidak perlu kuatir dengan kegiatan anak. Lalu, apa yang dikatakan pada anak, karena harus pindah-pindah tempat mengikuti tugas sang ayah?

Keduanya memberikan pemahaman pada anak, bahwa pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, merupakan pengalaman yang tak dimiliki orang lain. “Bumi Allah itu luas, dan kita beruntung karena bisa kenal banyak orang dari berbagai suku bangsa dan bahasa,” kata Arief.

Dalam bekerja, Arief selalu berpegang pada satu hal, selalu menjaga martabat pribadi dan keluarga. Dia juga tidak terbiasa untuk sowan atau meminta jabatan. Semua dijalani dengan apa adanya. Begitu pun ketika mendapat tugas-tugas dalam karirnya.

Masa Transisi
Bertugas pada masa transisi demokrasi tahun 1998, merupakan pengalaman tersendiri. Masyarakat yang sebelumnya terkungkung dalam sistem otoriter, Orde Baru, menjadi terbuka. Kondisi itu memiliki konsekuensi tersendiri. Kepolisian yang dianggap sebagai bagian sistem Orde Baru, menjadi sasaran masyarakat sipil.

Di berbagai tempat, polisi menjadi korban sweeping. Begitu pun dengan kantor polisi. Menjadi sasaran amok massa. Siang itu, 13 Mei 1998, Jakarta bergolak. Begitu pun dengan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kerumunan massa merangsek ke beberapa pusat pertokoan. Mengambil paksa barang di toko. Beberapa toko yang sudah tutup, juga dibongkar paksa. Beberapa polisi dan tentara yang coba mencegah, tak digubris. Letupan senapan ke atas, tak membuat massa takut.

Massa semakin beringas. Markas polisi yang tak jauh dari terminal Pasar Minggu, jadi sasaran. Massa ingin menghancurkan Mapolsek Pasar Minggu.

Arief yang ketika itu menjabat sebagai Kapolsek Metro Pasar Minggu, Polres Jaksel Polda Metro Jaya, segera memerintahkan anak buahnya mengeluarkan semua senjata di gudang. Sang anak buah bingung. “Pak, senjata kita tidak ada yang bisa digunakan. Itu senjata dari tahun 60-an semua,” katanya.

Arief tak peduli. Pokoknya semua senjata harus dikeluarkan semua. Masing-masing personil disuruh pegang senjata, dan diarahkan pada massa yang mulai merangsek ke Mapolres.

Saat itu, hanya ada dua senjata yang bisa digunakan. Satu pistol dan satu senapan serbu, AK 47. Senjata itu diletupkan ke atas sebagai peringatan. Massa tak jadi merangsek maju. Arief tersenyum. Toh, dengan senjata bohong-bohongan itu, massa akhirnya mengundurkan diri.

Dari kondisi itu, Arief belajar satu hal. “Kehadiran seorang pemimpin di tengah situasi chaos, membuat moral anggota tinggi,” tutur Arief.

Dia juga harus bekerja ekstra, mengamankan wilayahnya supaya tidak dilewati barisan bis demonstran mahasiswa. Maklumlah, dari Depok hingga Pasar Minggu, menjadi pusat dari beberapa kampus besar. Mulai dari UI, Gunadarma, Pancasila, IISIP, hingga ISTN.

Terkadang, Arief 'iseng' memasang mobil ‘molen’ pengaduk semen sebagai barikade. Truk besar itu sengaja di parkir di tengah jalan. Bagian kepala truk disorongkan ke depan, seolah-oleh truk sedang rusak.

Tujuannya tentu saja, supaya rombongan bis demontran mahasiswa, tidak melewati Pasar Minggu. Mahasiwa hanya ngedumel, karena jalurnya terhalang truk.

Mereka harus berputar mencari jalur alternatif. Pengalaman menjadi Kapolsek Bekasi di Polres Bekasi, Polda Metro Jaya, 1996, menjadi sangat berguna menangani masa transisi sebagai Kapolsek di Pasar Minggu.

Selanjutnya, Arief bertugas sebagai Kasubbag Mufi Bag Listik Lab Litlistek PPITK PTIK, Pabda Strajemen Padya Renum Paban I/Ren Sper Polri, Sespri Kapolri, Sespri Waka Polri.

Melindungi Kawan
Ketika menjadi Sespri Waka Polri, Arief mendapat kesempatan ikut pendidikan Sespim, 2001. Wakapolri, Bimantoro, minta lima nama orang untuk direkomendasikan masuk Sespim.

Dia minta teman Arief, menulis lima nama. Satu nama yang diminta Wakapolri termasuk nama Arief. Namun, teman tersebut, tak memasukkan nama Arief.

Hal itu membuat Wakapolri marah. “Ini teman kamu, aku minta nama kamu dimasukkan, ternyata namamu tak ada,” kata Arief, menirukan ucapan Wakapolri.

Meski sudah dicurangi, Arief tetap melindungi temannya di hadapan Wakapolri. Arief diberikan katabelece atau surat rekomendasi untuk mengikuti Sespim. Namun, surat itu tak mau dia terima.

Sang mertua yang juga polisi, juga bertanya, ’’Sudah menghadap siapa untuk Sespim?’ “Menghadap Allah,” jawab Arief. Sang mertua hanya geleng-geleng kepala dengan sikapnya.

Padahal, ketika masuk Sespim, dia dengar dari banyak orang yang ikut Sespim, mereka menghadap ke mana saja untuk ikut pendidikan itu.

Ketika pengumuman peserta Sespim, Arief lolos sebagai peserta dan masuk peringkat satu. Dia langsung menghadap Wakapolri. 

Dari peristiwa itu, Arief mengambil suatu pelajaran. Kalau dia jadi ambil katabelece dari Wakapolri, dia bakal dianggap lulus karena surat itu. Arief semakin percaya diri.

Dia berani ambil resiko dalam menghadapi sesuatu. Setelah Sespim, Arief bertugas di Pabanda Strajemen Padya Renum Paban I/Ren Spers Polri. Selanjutnya, menjabat sebagai Kapokdik I Subdit Dana Pemerintahan Dit Tipidkor Korserse Polri, 2001-2002.

Pada masa ini, Arief mendapat beasiswa program Doktoral (S3) di bidang ilmu kepolisian, angkatan kedua. Ketika hendak menyelesaikan tugas akhirnya, dia mendapat tugas sebagai Kapolres di Indragiri Hilir, Polda Riau, 2003. Arief langsung tancap gas.

Kalau kesempatan itu tidak diambil, dia tidak bakal dapat kesempatan lagi. Akhirnya, program doktoralnya ditunda. Sang profesor sempat telepon Kapolri, agar tugas sebagai Kapolres ditunda.

Dia bernegosiasi dengan profesornya. Arief bakal menyelesaikan program doktornya, dan menjadikan tugasnya di Indragiri sebagai bahan penelitian.

Di Indragiri, Arief menjadi ‘pemadam kebakaran’ lagi. Mapolres Indragiri dibakar massa. Terjadi disfungsi polisi. Polisi tidak berani menindak warga. Polisi mau memberikan tilang, warga sudah mengancam.

Arief mendekati para tokoh masyarakat. Mereka didatangi dan diajak bermusyawarah. Setelah itu, ketika terjadi masalah, para tokoh masyarakat inilah yang turut menyelesaikan masalah. Hukum kembali tegak. Fungsi polisi kembali berjalan.

Dua tahun bertugas di Indragiri, Arief bergeser menjadi Kapolres Tanjungpinang. Warga Indragiri ingin, dia tetap bertugas di sana. Setahun di Tanjung Pinang, dia ditarik ke Bareskrim.

Selama menjabat sebagai Kapolres di Indragiri dan Tanjung Pinang, dia menjadikan wilayah yang semula dikenal sebagai pusat perjudian, menjadi nol perjudian.

Selanjutnya, Arief Menjabat sebagai Kasubag Prodsus Bag Biro Analisis, Kanit II Dit II/Ekonomi, Koorspripim Polri. Tahun 2010, dia dipercaya menjabat sebagai Dir II/Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri. Bertugas di Bareskrim Ekonomi tantangannya besar.

"Polisi harus berhadapan dengan kejahatan ekonomi. Para pelakunya biasanya pintar, dan hasil kejahatannya besar. Sehingga bisa untuk memperngaruhi para penyidik," kata Arief.

Berkali-kali Arief ditawari uang untuk sebuah kasus yang sedang disidik. Dia kembalikan uang itu, tentunya setelah melapor atasannya. Sehingga tidak ada konflik kepentingan ketika bekerja.

Pada masa-masa inilah, banyak kasus besar yang ditangani. Mulai dari kasus Cicak-Buaya, Rekening Gendut Polri, Gayus Tambunan, terbunuhnya Munir.

Di kasus rekening Gendut Polri, dia bisa menyelesaikan penghitungan yang tidak singkron dilakukan PPATK.

Di kasus Gayus Tambunan, Arief harus mengamputasi para penyidik yang memeriksa Gayus. Dan, Gayus yang semula sudah bebas, harus masuk tahanan lagi.

Dalam kasus Munir, timnya berhasil menerjemahkan secara ilmiah, bagaimana racun yang bekerja di tubuh Munir. Sehingga Pollicarpus yang semula bebas, terbukti sebagai pelaku pembunuhan Munir.

Arief dan timnya juga berhasil menggulung pejabat Bea dan Cukai di Entikong, Kalbar. Akankah, Arief terus bersikap konsisten dan tegas terhadap berbagai pelanggaran dan kejahatan?

Mari kita dukung sikapnya. Juga, kita awasi bersama-sama.

Terbit di Koran Suara Pemred, 30-31 Juli 2014 Foto Maya Wuysang,Antara Kalbar

Baca Selengkapnya...

Wednesday, September 25, 2013

Menakar Akuntabilitas Kerja Timsel KPU Kalbar

Oleh Muhlis Suhaeri - Jurnalis Keberadaan KPU sebagai lembaga negara yang menangani pelaksanaan pemilu untuk Presiden dan Wakil Presiden, pemilu anggota DPR RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, dan pelaksanaan pemilu bagi pemilihan kepala daerah, menjadi instrumen penting bagi jalannya proses demokrasi yang kita jalani sekarang. Keberadaan KPU sebagai penyelenggara pemilu dituangkan dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 7, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2011, tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Karenanya, menjadi penting untuk melihat keberadaan para anggota KPU, dalam seleksi maupun tugas-tugas yang mereka jalani. KPU pertama dibentuk melalui Kepres Nomor 16 Tahun 1999. Anggota KPU periode ini berjumlah 53 orang. Terdiri dari unsur partai politik dan pemerintah. Mereka menjalankan tugas dari tahun 1999-2001. Selanjutnya, terbentuk KPU kedua dengan Kepres Nomor 10 Tahun 2001. KPU ini terdiri dari unsur LSM dan akademisi berjumlah 11 anggota. Menjalankan tugas dari tahun 2001-2007. KPU ketiga dibentuk berdasarkan Kepres 101/P/2007. Anggota KPU periode ini berjumlah tujuh orang dari peneliti, KPU Provinsi, birokrat dan akademisi. KPU untuk periode yang sekarang ini, diisi para mantan ketua atau anggota KPU di tingkat provinsi, akademisi, dan pegiat pemilu. Dalam berbagai pemilukada kerap terjadi sengketa pilkada antara pemenang dan pihak yang kalah dalam pemilihan. Fungsi KPU menjadi penting dalam menangani permasalahan tersebut. Salah dalam menyelenggarakan pemilukada, berakibat pada kekerasan yang kerap muncul, sebagai jalan bagi sumbatnya proses komunikasi yang terjadi.  Karena itu, integritas dan kapasitas Ketua KPU beserta Anggotanya, penting untuk diketahui publik sebagai bagian dari pelaksanaan demokrasi yang kita jalani sekarang. Proses pengisian komisioner KPU di daerah dimulai dari proses pembentukan tim seleksi (Timsel). Untuk KPU Provinsi kewenangan membentuk Timsel ada KPU RI, sedangkan KPU Kabupaten/Kota kewenangan membentuk Timsel ada pada KPU Provinsi. Pasca diberlakukan UU Nomor 15 tahun 2011, tentang Penyelenggara Pemilu, pembentukan Timsel tidak lagi melibatkan Pemerintah Daerah dan DPRD setempat, sebagaimana ketika UU Nomor 22 tahun 2007 masih berlaku. Semangat yang ada dalam UU Nomor 15 Tahun 2011 dengan memberikan kewenangan penuh kepada KPU dalam membentuk Timsel bisa dimaklumi, demi menjaga independensi KPU sebagai penyelenggara pemilu yang dijamin dalam Pasal 22E Ayat (5) UUD 1945. Nah, yang jadi pertanyaan adalah bagaimana kewenangan membentuk Timsel itu digunakan oleh KPU. Bisakah proses pembentukan Timsel tersebut terbebas dari berbagai konflik kepentingan? KPU Pusat memiliki kewenangan memilih Timsel calon anggota KPU Provinsi. Pemilihan itu dilakukan tanpa keterlibatan pihak manapun. Artinya, KPU sangat punya kewenangan menentukan Timsel. Bagus atau tidaknya Timsel bergantung pada KPU Pusat. Dalam pemilihan Timsel KPU Kalbar, pemilihan Timsel tak banyak diketahui masyarakat. Bahkan pengumuman Timsel pun hanya dilakukan di media nasional. Ini tentu saja sesuatu yang agak ganjil, karena penugasan Timsel di Kalbar tapi masyarakat seolah tak berhak tahu tentang informasi tersebut. Begitu pun ketika terpilih, Timsel kurang membuka diri terhadap publik atau ada proses sosialisasi di daerah. Pada seleksi awal KPU Kalbar ada 59 orang pendaftar.Calon yang lolos adminstrasi berjumlah 32 orang. Setelah tahap seleksi administrasi, Timsel melakukan serangkaian tes terdiri dari tes tertulis, tes kesehatan, tes psikologi, dan tes wawancara.Timsel kemudian menetapkan 20 orang. Jumlah itu merupakan representasi dari 4 anggota KPU Provinsi dan 6 KPU Kabupaten/Kota. Selebihnya, 10 orang merupakan non penyelenggara atau di luar KPU. Hasil seleksi awal dari 20 besar ke 10 besar sungguh mengejutkan publik. Orang-orang yang selama ini dianggap memiliki kapasitas dan kredibilitas baik dalam penyelenggaraan pemilu, tak masuk seleksi awal.Sementara orang yang tak memiliki tranck record atau punya pengalaman dalam bidang tersebut, melenggang dengan mudah pada tahap ini.Ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar. Apa dasar penetapan dan seleksi tersebut? Bagaimana mekanisme seleksi yang transparan dan adil, muncul dalam seleksi para calon anggota KPU Kalbar? Sejauhmana tugas Timsel KPU Kalbar bekerja? Untuk menjawabnya tentu ada beberapa parameter bisa dilihat. Misalnya, dalam seleksi awal, bisa diketahui siapa para kandidat ini dari CV yang mereka miliki. Orang yang memiliki pengalaman atau tidak dalam bidang ini, bisa dilihat rekam jejaknya dari CV yang mereka miliki. Timsel dapat mempublikasikan CV para kandidat, bila memang mekanisme itu harus dilakukan, untuk menjawab pertanyaan publik.Selanjutnya bagaimana mekanisme pemilihan dilakukan dalam seleksi tersebut berjalan dengan transparan. Salah satu indikator yang dapat dilihat adalah, pada tahapan seleksi ada mekanisme pendokumentasian. Ada alat rekam yang digunakan pada tahap ini. Dari alat rekam itulah kita bisa melihat, sejauhmana hasil wawancara dari para kandidat yang ikut seleksi. Paham atau tidaknya para kandidat dalam kerja-kerja penyelenggaran pemilu, bisa dilihat dari hasil wawancara tersebut. Prosedur pendokumentasian telah diatur dan ada dalam tupoksi seleksi para calon anggota KPU.Karena itu menjadi penting untuk melihat, apakah mekanisme ini sudah berjalan dan dilaksanakan dalam seleksi tersebut.Ini tentu saja untuk menghindari dugaan yang berkembang bahwa, pemilihan para anggota KPU penuh dengan rekayasa dan politik gerbong suatu kelompok tertentu. Pelaksanaan seleksi wawancara pada tahap 20 besar, dari informasi para calon ternyata dilakukan secara tertutup tanpa melibatkan partisipasi publik. Jika dibandingkan dengan seleksi KPU Kalbar pada periode sebelumnya (2008 yang lalu), wawancara terhadap calon dilakukan secara terbuka dan bisa disaksikan oleh publik. Apa yang terjadi dengan wawancara terhadap calon anggota KPU Kalbar pada di tahap 20 besar pada tahun 2013 ini? Apakah publik bisa menyaksikan secara langsung? Apakah standar pertanyaan antara calon yang satu dengan calon yang lain memiliki bobot yang sama? Apakah durasi waktu yang diberikan kepada setiap calon itu sama? Jika terjadi diskriminasi antara calon yang satu dengan dengan calon yang lain, patut diduga telah terjadi penggiringan untuk meloloskan calon tertentu dan “memotong” calon yang lain. Nah, kalau mekanisme dan prosedur itu tidak dijalankan dalam proses seleksi para calon anggota KPU Kalbar, tentu saja masyarakat akan bertanya-tanya. Bisa jadi dugaan mereka tentang adanya politik gerbong atau pesanan organisasi tertentu dan rekayasa merupakan suatu kebenaran. Karena itu menjadi penting bagi Timsel untuk menjelaskan pada publik, bahwa mereka telah bekerja sesuai dengan prosedur, mekanisme dan aturan main untuk menyeleksi para calon anggota KPU. Timsel harusnya memegang teguh prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi dan partisipasi publik. Jika terjadi pelanggaran terhadap prinsip-prinsip umum tersebut, sudah sepatutnya KPU Pusat mengambil proses seleksi calon anggota KPU Kalbar dari tahapan yang seleksi yang bermasalah. Hal ini demi menyelamatkan lembaga KPU agar tidak diisi oleh orang-orang yang tidak kredibel. Karenanya, mari kita lihat bersama kerja yang telah dilakukan para anggota Timsel. Apakah mereka sudah melakukan mekanisme dan prosedur yang transparan dan adil dalam seleksi tersebut? Opini di Pontianak Post, 7 Mei 2013

Baca Selengkapnya...

Friday, October 5, 2012

AJI Jakarta Menolak Outsourcing di Industri Media

Sejak era reformasi 1998, pertumbuhan industri media berlangsung dengan pesat dan membentuk kelompok usaha baru di bidang media. Namun pertumbuhan industri media hingga kini belum sejalan dengan peningkatan kesejahteraan dan perlindungan status dan keselamatan kerja bagi jurnalis. Selain fenomena pemilik media yang masih menolak keberadaan serikat pekerja pers, kini fenomena pekerja tenaga ahli daya (outsourcing) di industri media semakin berkembang. "Fakta ini sangat terlihat di industry televisi," kata Umar Idris, Ketua AJI Jakarta. Sebagai contoh adalah di stasiun televisi SCTV. Permasalahan outsourcing mencuat ketika manajemen SCTV memberlakukan sistem kerja kontrak per 1 Juni 2012 kepada 42 karyawan mereka yang sebelumnya adalah pekerja tetap di stasiun TV swasta nasional itu. Walaupun mereka telah bekerja selama 7 hingga 19 tahun, status mereka berubah sebagai karyawan outsourcing sehingga mereka dipekerjakan oleh pihak ketiga, yaitu PT ISS. Fenomena outsourcing diduga kuat tidak hanya terjadi di stasiun televisi SCTV saja, namun juga di stasiun televisi lain. Sebuah stasiun televisi berbayar yang memproduksi berita, masih dijumpai beberapa jurnalis dan kameramen yang berstatus outsourcing setelah program siaran mereka sebelumnya diakuisi oleh manajemen baru. Bahkan sebuah kantor berita nasional mempekerjakan banyak wartawan dengan status sebagai pekerja outsourcing dengan menyewakan wartawan itu di kantor pemerintah. Fenomena outsourcing industri media jelas mencemaskan mengingat pekerjaan jurnalis dan pekerjaan lain yang berperan penting dalam proses produksi di media telah dilarang oleh Undang-Undang. Pada Pasal 66 (1) UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan dengan jelas bahwa "Pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi, kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi". Sistem kerja dalam status kontrak atau outsourcing terbukti sangat merugikan karena pekerja tidak mendapatkan perlindungan, fasilitas, dan kepastian hukum dalam jangka panjang. Ia dianggap tak lebih dari sekedar alat, kapan dibutuhkan bisa direkrut dan kapan tidak dibutuhkan mesti siap disingkirkan setiap saat. Pengusaha juga tidak perlu membayar pesangon kepada pekerja yang bekerja dengan sistem ini. Dampak lainnya, tentu saja berimbas kepada menurunnya upah dan kesejahteraan pekerja. Mereka yang bekerja dalam status ini kerap mendapatkan upah yang lebih rendah, tidak mendapatkan jaminan sosial seperti asuransi Jamsostek dan kehilangan berbagai tunjangan lain seperti tunjangan hari raya. Dari sisi posisi tawar, pekerja dalam sistem kontrak atau outsourcing menjadi tidak memiliki daya tawar yang kuat. Hal ini sebagai konsekuensi dari hubungan kerja yang bersifat individual dan sementara. Kondisi tersebut jelas berbeda dengan hubungan kerja yang bersifat permanen dan kolektif. Selain masalah outsourcing, AJI Jakarta juga mencatat, jurnalis non-organik atau yang populer disebut koresponden/kontributor semakin banyak. Koresponden/kontributor merupakan golongan rentan dalam bisnis media. Seringkali koresponden/kontributor bekerja dengan status hubungan kerja yang tak jelas. Celakanya, walau mereka menanggung resiko selama menjalankan peliputan, mereka sering tidak memiliki jaminan sosial, termasuk kesehatan atau keselamatan kerja. Banyak status koresponden/kontributor yang tak jelas meskipun mereka telah bekerja bertahun-tahun. Untuk itu, bersamaan dengan momentum Aksi Tolak Outsourcing pada 3 Oktober 2012, AJI Jakarta mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut: pertama, meminta berbagai perusahaan media cetak online televisi dan radio untuk menghentikan praktik outsourcing di industri media massa, terutama untuk posisi jurnalis dan karyawan lain di bagian redaksi. Kedua, mendesak agar berbagai perusahaan media massa tetap memberikan perlindungan jaminan sosial dan keselamatan kerja bagi koresponden dan kontributor.

Baca Selengkapnya...

Wednesday, May 30, 2012

Usut Pemukulan, Pengeroyokan, dan Pembacokan Jurnalis

Jakarta, Rabu – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengecam berbagai kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia. Sejak Januari hingga Mei, telah terjadi sedikitnya 20 kasus kekerasan terhadap jurnalis. Kekerasan terhadap jurnalis berulang karena negara terus melakukan praktik impunitas terhadap para pelakunya. Kasus kekerasan kembali terjadi pada Selasa (29/5). Puluhan oknum prajurit TNI Angkatan Laut, Padang, yang memukuli dan merampas paksa kamera, kaset video, dan memori kamera jurnalis di di kawasan BukitLampu, Kelurahan Sungai Baremas, Kecamatan Lubuk Begalung, Padang, Selasa (29/5). Aksi kekerasan itu melukai tujuh jurnalis, yaitu Budi Sunandar (jurnalis Global TV), Sy Ridwan (fotografer Padang Ekspres), Jamaldi (jurnalis Favorit Televisi), Andora Khew (jurnalis SCTV), Julian (jurnalis Trans 7), Afriandi jurnalis Metro TV), dan Deden (jurnalis Trans TV). Para pelaku juga merusak dan merampas peralatan kerja para jurnalis. Pada Selasa, juga terjadi kekerasan terhadap jurnalis di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Jurnalis Harian Kompas Reny Sri Ayu dan jurnalis Harian Mercusuar Moechtar Mahyuddin saat meliput di antrean warga di SPBU Bungku. Keduanya dikeroyok sejumlah orang yang diduga antre membeli bahan bakar minyak dengan jeriken. Sebelumnya, pada Senin (28/5), terjadi perampasan kamera jurnalis Batam TV Bagong Sastra Negara yang meliput kelangkaan bahan bakar minyak di Kota Batam. Perampasan kamera oleh seseorang berpakaian mirip seragam tentara itu terjadi di SPBU Simpang Tobing, Kota Batam. Pada Rabu (23/5), jurnalis Harian Bongkar Darwis Yusuf (52) dibacok Kepala Dinas Perikanan Lampung Utara Kadarsyah di depan kantor pelaku. Pembacokan diduga terkait pemberitaan Harian Bongkar mengenai dugaan penipuan proyek dan penyalahgunaan anggaran pembuatan kolam senilai Rp3,4 miliar yang terletak di lahan warga di Kecamatan Abung Surakarta, Kabupaten Lampung Utara. Bahu Darwis mengalami luka dan mendapat 23 jahitan. Kasus itu melengkapi deretan panjang kasus kekerasan terhadap jurnalis. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat sejak Januari hingga Mei telah terjadi sedikitnya 20 kasus kekerasan terhadap jurnalis. Para pelakunya meliputi oknum polisi (5 kasus), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (3 kasus), pegawai negeri sipil pemerintah daerah (3 kasus), oknum TNI (2 kasus), organisasi kemasyakatan (2 kasus), organisasi kemahasiswaan (1 kasus), massa/warga (2 kasus), petugas keamanan perusahaan (1 kasus), orang tidak dikenal (1 kasus). “Kasus kekerasan terhadap terhadap jurnalis selalu berulang karena Negara melalui aparat penegak hukum terus melakukan praktik impunitas yang membuat para pelaku tidak tersentuh hukum. Akibatnya, tidak ada efek jera. Semakin lama, orang menjadi semakin abai bahwa jurnalis adalah profesi yang dilindungi,” kata Aryo Wisanggeni G, Koordinator Divisi Advokasi AJI Indonesia. Praktik impunitas terhadap para pelaku kekerasan terhadap jurnalis yang kini terjadi merupakan kelanjutan praktik impunitas dalam delapan kasus pembunuhan jurnalis yang terjadi sejak 1996. Delapan kasus pembunuhan jurnalis itu yang kasusnya tak terselesaikan adalah kasus pembunuhan Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin (jurnalis Harian Bernas di Yogyakarta, 16 Agustus 1996), Naimullah (jurnalis Harian Sinar Pagi di Kalimantan Barat, ditemukan tewas pada 25 Juli 1997), Agus Mulyawan (jurnalis Asia Press di Timor Timur, 25 September 1999), Muhammad Jamaluddin (jurnalis kamera TVRI di Aceh, ditemukan tewas pada 17 Juni 2003), Ersa Siregar, jurnalis RCTI di Nangroe Aceh Darussalam, 29 Desember 2003), Herliyanto (jurnalis lepas tabloid Delta Pos Sidoarjo di Jawa Timur, ditemukan tewas pada 29 April 2006), Adriansyah Matra’is Wibisono (jurnalis TV lokal di Merauke, Papua, ditemukan pada 29 Juli 2010) dan Alfred Mirulewan (jurnalis tabloid Pelangi, Maluku, ditemukan tewas pada 18 Desember 2010). “Jika kasus pembunuhan jurnalis saja diabaikan, apalagi kasus kekerasan terhadap jurnalis lainnya. Jurnalis yang bekerja di bawah ancaman kekerasan akan takut memberikan informasi yang utuh kepada masyarakat. Itu mengancam hak konstitusional warga negara untuk memperoleh informasi. Kekerasan terhadap jurnalis tidak hanya merugikan jurnalis, tetapi merugikan publik dan setiap warga negara,” kata Aryo. AJI Indonesia mendesak aparat penegak hukum-baik di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia maupun Tentara Nasional Indonesia-menindak para pelaku kekerasan terhadap jurnalis. AJI Indonesia menuntut para pelaku itu diadili dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, demi mendorong kesadaran setiap warga negara bahwa jurnalis adalah profesi yang dilindungi oleh hukum. (AJI Indonesia)

Baca Selengkapnya...

Thursday, December 1, 2011

Mengunjungi Sabuk Penyebaran Islam di Jantung Borneo

Oleh Muhlis Suhaeri
Kabupaten Sambas ibarat sosok penari. Penari yang sudah lupa bersolek. Penari yang telah gontai mengikuti ritme tarian. Padahal dengan sekali gebrakan, segala kejayaan era masa lalu, akan muncul dan bersinar kembali.

Sebuah sore di muara Ulakan, Sambas. Ulakan menjadi pertemuan tiga cabang anak sungai. Sungai Sambas, Subah dan Teberau. Matahari sebentar lagi turun. Awan bergerumbul di batas cakrawala jadi tujuan akhir. Cahaya matahari menerpa air sungai. Memendarkan warna kuning keemasan. Siluet gerbang dan tiang kapal membentuk imaji tersendiri. Kepingan dan untaian pemandangan sore di komplek Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas tersebut, seolah ingin mengatakan sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Komplek kesultanan terletak pada areal seluas satu hektar. Ada dua gerbang. Gerbang pertama jadi pintu masuk. Memisahkan jalan raya dengan komplek kesultanan. Terdapat masjid Jami’ Sultan Muhammad Safiuddin II, alun-alun, tiga meriam di bawah tiang bendera berbentuk tiang kapal. Gerbang kedua memisahkan alun-alun dengan istana Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas.

Memasuki lingkungan istana, terlihat lambang Kesultanan Alwatzikhoebillah berupa dua kuda laut bersayap mengapit matahari bernomor 9. Istana terdiri dari tiga bangunan. Bangunan utama di bagian tengah. Bangunan di kanan dan kiri berfungsi menyimpang senjata kesultanan dan tempat tinggal.

Sore itu saya menemui imam masjid Jami’ selepas salat ashar. Rasyidi Mukhtar (66), sosok lelaki bersahaja. Tatapan matanya teduh. Kepala selalu menunduk. Sebuah sikap tawaduk. Khas para hamba Allah yang selalu berserah diri.

Masjid Jami’ berdiri pada 1 Muharam 1303 Hijriah atau 10 Oktober 1885. Sultan Muhammad Safiuddin II diberi nasehat ibunya, Ratu Sabar untuk mendirikan masjid. Warga berpartisipasi. Kesultanan memberi untaian bunga setaman kepada warga yang menyumbang pembangunan masjid. Warga berbondong dan menyumbang.

Arsitektur masjid Jami’ sangat khas. Ada empat menara berbentuk limas melengkung. Bagian atas menyerupai pagoda. “Ada perpaduan dengan bangunan dari Muangthai,” kata Rasyidi.

Masjid beberapa kali alami perbaikan. Tahun 1935 dan 1980. Renovasi tak sampai mengubah struktur masjid. Bagian atas tak pernah diubah. Masjid awalnya satu lantai. Lantai dua hasil renovasi tahun 1980-an.

Masjid Jami’ terbuat dari kayu belian. Ini jenis kayu keras. Tahan hingga ratusan tahun. Sebagian kayu berasal dari bekas bangunan istana Sultan Aqomadin III di Tanjung Rengas. Istana dibongkar dan pindah ke Desa Dalam Kaum. Sebanyak 20 tiang kayu belian berdiameter 30 cm dengan panjang sekitar 18 meter menopang kerangka masjid. Masjid sanggup menampung sekitar 900 jamaah. Ditambah bagian pelataran, bisa menampung sekitar 1.600 jamaah.

Atap masjid terbuat dari sirap atau kayu setebal satu centimeter. Dulu, masjid bagian depan terdapat dua pintu yang dapat dibuka kedepan. Sekarang diganti dengan pintu geser. Jendela kayu diganti kaca. Masjid terlihat lebih terang.

Bagian imam terdapat mimbar bermotif ukiran khas Melayu Palembang. Kesultanan Sambas mendatangkan ahli ukir dari Palembang. Ada tempayan keramik dari Tiongkok. Tinggi dan lebarnya sekitar satu meter. Dulunya untuk menampung air untuk berwudhu. Sekarang tak berfungsi. Tempayan diletakkan di dalam masjid.

Satu masjid lain yang sering dikunjungi para peziarah adalah, masjid Bersejarah Sirajul Islam di Kecamatan Selakau, Sambas. Saya bertemu Mursidin. Dia cucu generasi ketiga Syekh Muhammad Sa’ad. Dia murid Syekh Ahmad Khatib ibn Abdul Ghaffar al-Sambasi al-Jawi.

Sa’ad belajar agama dan hukum Islam di Bagdad, Irak. Dia mengajar Thariqat Qadiriyyah Naqshabandiyyah 18 tahun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Juga mengajar di Nusa Tenggara barat (NTB), dan lainnya.

Masjid Bersejarah Sirajul Islam dibangun pada 1340 H atau 1927. Masjid berada di daerah aliran sungai Selakau. Pendiri masjid ada tiga orang. Yaitu, Syekh Muhamad Sa’ad, Datuk Itam dan Datuk Uray Aswan. Datuk Itam memiliki ilmu kanuragan. Dia kebagian cari kayu di hutan.

“Mereka mewakili golongan ulama, cendekiawan dan pemerintahan,” kata Mursidin.

Masyarakat secara swadaya turut membangun masjid. Setiap panen, warga menyerahkan sebagian padi bagi pembangunan masjid.

Bangunan utama masjid tidak diubah sejak dulu. Hanya bagian dalam yang diperbaiki. Atap sirap dari kayu diganti atap seng. Masjid berukuran 12 x 18 meter dapat menampung sekitar 300 jamaah. Ada enam tiang utama dari kayu belian berukuran 16 x 16 cm. Kayu dibungkus panel kayu.

Kekhasan bangunan masjid sangat kontras dengan lingkungan sekitar. Sungai, pasar, nelayan dan kuburan, seolah menjadi siklus bagi perjalanan hidup manusia.

Sejarah Sambas
Empu Prapanca dalam Kitab Negara Kertagama menyebut kerajaan Sambas yang masih beragama Hindu. Sejarah Sambas dibagi dua fase. Pertama, fase Sambas kuno sudah ada sejak abad ke 13. Warga Sambas masih beragama Hindu, karena pengaruh dari Majapahit. Kedua, sejak Kesultanan Sambas sekitar abad ke 16.

Kesultanan Sambas didirikan Sultan Muhammad Safiuddin I. Dia pemeluk agama Islam. Sultan memerintah dari 1631-1668. Kesultanan Sambas alami masa kejayaan saat diperintah Sultan Muhammad Safiuddin II, 1866-1934. Dia sultan ke 13. Pada saat itu rakyat Sambas sangat makmur. Perkembangan ekonomi maju. Begitu juga perkembangan Islam.

Kondisi itu tak mengherankan. Sebab, pelabuhan dan perairan Sambas langsung terhubung dengan jalur pelayaran internasional di Singapura dan Malaka. Sambas punya hubungan baik dengan negara-negara tetangganya.

Seperti juga kerajaan lain di Kalimantan Barat, Kesultanan Sambas berada di pinggir sungai. Sungai jadi jalur utama saat itu. Sehingga menjadi pilihan mendirikan pusat pemerintahan. Secara ekonomi dan pertahanan lebih menguntungkan. Kesultanan Sambas berada di muara Ulakan. Yang menjadi pertemuan tiga cabang anak Sungai Sambas, Subah dan Teberau.

Kesultanan Sambas mendatangkan para penambang emas dari Tiongkok, untuk menambang emas di wilayah Kesultanan Sambas. Monterado, Mandor dan Sempadang merupakan tujuan awal orang Tiongkok pertama kali masuk ke Kalbar.

Kesultanan alami kemunduran, saat Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin yang berkuasa sejak 1931-1943, diculik dan dibunuh Jepang. Sejak Juli 1950, Kesultanan Sambas bersama seluruh kerajaan di Borneo Barat, bergabung dan menyerahkan mandat kekuasaan pada Republik Indonesia Serikat (RIS). Selepas itu, Kesultanan Sambas hanya diperintah Ketua Kerabat Kesultanan Sambas dengan gelar Pangeran Ratu.

Sejak 1957-1999, Sambas menjadi Daerah Tingkat II Sambas dengan ibukota Singkawang. Pada 2009, Kabupaten Sambas dimekarkan menjadi Kabupaten Bengkayang. Ibukota Kabupaten Sambas pindah ke Kota Sambas.

Perjalanan ke Kabupaten Sambas dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari Pontianak. Ada bis umum melayani rute ini. Kalau mau lebih cepat, Anda bisa menggunakan taksi. Armadanya Kijang Innova. Kendaraan diisi 4-5 orang. Butuh waktu sekitar lima jam dari Pontianak.

Ada beberapa penerbangan langsung ke Pontianak. Dari Jakarta, Batam, Jogjakarta, Pangkalanbun, Balikpapan, Kuching dan Singapura.

Seni, Budaya dan Islam
Hampir tak ada kehidupan masyarakat Melayu Sambas terlepas dari ritual dan budaya. Sejak lahir hingga meninggal, masyarakat melaksanakan ritual dan adat yang identik dengan nilai-nilai keislaman.

Pengaruh Islam melekat pada seni dan budaya lokal. “Seni dan budaya di Sambas tak bisa dipisahkan dengan religi,” kata Arpan, penulis buku mengenai saprahan.

Warga punya tradisi makan bersama atau saprahan. Satu saprah untuk enam orang. Ditata berderet dan memanjang. Saprahan biasanya dilaksanakan pada acara pernikahan.

Menu saprahan tergantung orang yang punya gawe. Selama 2-3 hari acara, biasanya para tetangga cuti dari kerja. Mereka membantu dan bergotong-royong. “Sehingga setiap orang mampu melakukan saprahan,” kata Arpan.

Kalau di desa, karena sebagian besar berprofesi sebagai petani, mereka menyumbang dengan barang. Warga membawa dua kilogram beras, satu ekor ayam, satu kelapa dan gula. Hal itu sebagai tanda ikut bergembira dan meringankan yang punya gawe. Kalau di kota, biasanya menyumbang dengan uang.

Dalam saprahan terdapat acara rentetannya. Ada acara Mulang-mulangkan. Pengantin lelaki datang ke rumah pengantin perempuan. Pada acara itu, keluarga pengantin lelaki menyerahkan pengantin lelaki pada keluarga perempuan. Dan keluarga perempuan menyerahkan pengantin perempuan pada keluarga lelaki.

Pada acara Mulang-Mulangkan, dodol makanan khas yang selalu tersaji. Dodol rasanya manis. Hal itu sebagai harapan, kehidupan lebih baik bagi pengantin. Berbagai ritual adat dan budaya akan ditampilkan. Ada zikir, nyanyian dan tarian.

“Semua mengandung unsur keislaman,” kata Yuhendri, Kasi Kebudayaan Disporabudpar Sambas.

Ada tiga jenis zikir. Zikir barzanji, nazam dan maulud. Pada acara pindah rumah, sunatan, ritual buang rambut anak kecil, biasa menggunakan zikir barzanji. Isinya puji-pujian dan riwayat Nabi Muhammad. Zikir maulud khusus untuk acara maulud atau memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad. Kataman Alqur’an biasanya menggunakan zikir nayam.

Radat atau nyanyian berbahasa Arab akan ditampilkan. Liriknya memuji kebesaran Allah. Ada penyanyi solo. Gerakan penyanyi sederhana. Sehingga nilai religinya muncul.

Tarian jappen lembut ikut ditampilkan. Ini tarian khas. Hanya ada di Sambas. Beda dengan jappen di daerah lain. Jappen lembut pakai bahasa Arab. Tarian ini tak bisa dipisahkan dengan semangat dan nilai keislaman. Gerakan tubuh lentur dan lembut. Ada nuansa religi yang kuat pada penampilannya.

Begitulah budaya khas Sambas. Tak terpisahkan dengan nafas keislaman.



Para Imam dari Sambas
Sambas menorehkan beberapa nama besar dalam perkembangan Islam di Indonesia atau dunia. Karenanya, mengunjungi Sambas serasa tak lengkap, tanpa berziarah ke makam para raja dan imam. Meski hanya ramai pada hari tertentu saja, makam itu selalu dikunjungi para peziarah.

Ada ulama besar tingkat internasional kelahiran Sambas. Namanya, Syekh Ahmad Khatib ibn Abdul Ghaffar al-Sambasi al-Jawi. Dia kelahiran Kampung Dagang, Sambas, 1803. Semasa remaja belajar ilmu agama di Mekah, Saudi Arabia. Dia belajar kepada guru bernama Syekh Syamsuddin. Syekh Khatib menikah dan tinggal di Arab Saudi. Dia memiliki tiga anak. Yaitu, Syekh Yahya, Siti Khadijah dan Syekh Abdul Gaffar. Semasa hidupnya, dia menjadi imam di Masjidil Haram, Mekah. Dan termasuk ulama besar di Saudi Arabia.

Syekh Khatib mengabungkan dua aliran besar tasawuf, Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah menjadi Thariqat Qadiriyyah Naqshabandiyyah. Kemunculan tarekat ini menyumbang perkembangan dan peradaban Islam yang kuat di Indonesia. Syekh Khatib meninggal dan dimakamkan di Mekah pada 1875.

Sebagian besar muridnya menjadi penyebar Islam di Indonesia dan Asia Tenggara. Misalnya, Syekh Muhammad Makruf Ibn Abdullah al-Khatib dari Palembang. Syekh Haji Ahmad dari Lampung. Syekh Abdul Karim dari Banten. Syekh Ahmad Thalhah dari Cirebon. Syekh Ahmad Hasbullah dari Madura. Syekh Muhammad Isma'il Ibn Abdul Rahim dari Bali. Syekh Yasin dari Kedah Malaysia. Syekh Abdul Latif bin Abdul Qadir Sarawak, Malaysia. Syekh Nuruddin dari Filipina. Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad dari Tasikmalaya. Syekh Muhammad Saad dari Selakau, Sambas.

Syekh Muhammad Sa’ad meninggal di Selakau. Makamnya berada di samping Masjid Sirajul Islam. Makam itu dibiarkan terbuka. Tak ada pembatas atau atap. Dulunya, pernah dibuat atap. Tujuannya melindungi makam dari hujan atau terik matahari. Namun, ketika anaknya bernama H. Abdul Mu’in pulang dari belajar di Kairo, Mesir, dia mendapati makam orang tuanya diberi rumah-rumahan. Segera saja rumah-rumahan itu dibongkar. Dia kuatir orang berbuat syirik, karena mengkultuskan dan mengeramatkan makam.

Setiap tahun ada rombongan tur kunjungi makam Syekh Muhammad Sa’ad. Terutama murid-murid dari pondok Pesantren Suralaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Atau, beberapa pesantren dari Nusa Tenggara Barat. Bahkan, tahun 2010, ada rombongan dari Brunei, Kuala Lumpur, Kabupaten Sanggau, Landak, Pontianak mengunjungi makam secara bersama.

Mereka datang dan berdo’a di depan makam. Paling lama dua jam.

Sejarah perkembangan Islam di Sambas tak bisa dipisahkan dengan Sultan Muhammad Safiuddin II, raja ke 13 Kesultanan Sambas. Semasa berkuasa, sultan mencanangkan Kesultanan Sambas sebagai Serambi Mekah. Sultan mengirim para alim ulama dari Sambas ke Arad Saudi, Mesir dan Irak untuk belajar ilmu dan hukum Islam. Juga mendatangkan ahli hukum agama dan guru pengajar agama Islam. Tak hanya dari Kalbar, juga dari negara tetangga. Sultan mengundang ulama dari Pattani, Thailand Selatan menjadi guru agama di Sambas. Namanya Abdul Jalil. Makamnya di Lumbang Keramat, Sambas. Peziarah kerap mengunjungi makam tersebut.

Orang Sambas menilai Sultan Muhammad Safiuddin II pemimpin berkarakter, jujur dan amanah atau bisa dipercaya. Ia memiliki karisma dan sifat pemimpin. Makam Sultan Muhammad Safiuddin II sering dikunjungi peziarah. Warga mengunjungi makam, karena semasa hidupnya sultan dianggap berjasa bagi Kesultanan Sambas. Keramat hidup dan mati. Artinya, semasa hidup berbuat baik dan berguna.

Warga kunjungi makam jelang Ramadan dan Lebaran. Ada berbagai alasan orang kunjungi makam. Mereka ingin bayar niat, mengharap berkah atau menghormati orang tersebut.

Sejarah penyebaran Islam di Kesultanan Sambas juga terlihat dari munculnya dua imam. Imam Maha Raja dan Maha Raja Imam. Imam Maha Raja adalah imam masjid. Ia tidak diangkat sultan. Sultan mengangkat dan menobatkan Maha Raja Imam melalui upacara kesultanan. Tugasnya mengurus pendidikan agama Islam, pendidikan sekolah agama, mengumpulkan zakat dan lainnya. Ia bertugas seumur hidup.

Sultan pernah mengangkat tiga Maha Raja Imam. Maha Raja Imam Haji Muhammad Arief, Maha Raja Imam Haji Muhammad Imran dan Haji Muhammad Basiuni bin Imran. Kedudukan mereka penting dalam syiar agama Islam di Sambas.

Saya menemui anak Basiuni Imran, Badran Hamdi. Ia seorang kontraktor. Menurutnya, sifat Basiuni Imran sangat sederhana. Basiuni sering diskusi dengan pemerintahan, bagaimana mengembangkan agama Islam dan ahlakul karimah warga.

“Beliau bisa bergaul mulai dari tingkat bawah hingga atas,” kata Badran Hamdi.

Basiuni Imran pernah belajar ke Mekah dan Mesir. Tahun 1889, ia ke Mekah mempelajari hukum Islam. Ia pulang ke Sambas tahun 1906. Tahun 1910, berangkat ke Universitas Al Azhar, Kairo untuk memperdalam hukum Islam.

Setelah balik ke Sambas, ia membuat beberapa metode dakwah. Mendirikan sekolah Tarbiyatul Islam. Menerbitkan buku-buku Melayu berbahasa Arab Melayu atau Melayu Jawi, biasa disebut Arab gundul. Melakukan pendekatan dengan kaum muda. Misalnya, sebagai dewan penasehat satu yayasan. Pemikirannya tentang Islam, terdokumentasi dalam beberapa buku. Dia juga menerjemahkan beberapa buku mengenai hukum Islam.

Dia juga terlihat dalam perjuangan kemerdekaan. Bersama pemuda-pemuda Sambas, ia memimpin dan mengganti bendera Belanda di kantor Controleur Sambas, 27 Oktober 1945.
Syiar agama bersanding dengan perjuangan membela tanah air.

Print edition in Garuda In-Flight Magazine, Middle East, December 2011

Baca Selengkapnya...

Wednesday, November 30, 2011

Wisata Sejarah di Alcatraz

Oleh: Muhlis Suhaeri
California, pertengahan Maret 2010. Pesawat American Airlines yang saya tumpangi mulai memasuki wilayah udara California. Penerbangan dari St Louis, Missouri, membawa kesan tersendiri. Sepanjang perjalanan bentang pegunungan menampakkan wajahnya yang unik. Pengunungan mengukir lansekap dan memisahkan wilayah Amerika Serikat bagian tengah dan pantai barat.

Mendekati San Francisco, pemandangan pegunungan yang tertutup salju, mulai berganti dengan kabut. Mendung dan kabut merupakan wajah khas San Francisco yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. California termasuk negara bagian Amerika Serikat dengan ibukota Sacramento. San Francisco salah satu kota terbesar, selain San Diego dan Los Angeles.

Pesawat mendarat di Terminal 3, Area E, Bandara Internasional San Fransisco. Area itu khusus bagi pesawat American Airlines yang melayani penerbangan dalam negeri dari beberapa kota di negara bagian Amerika Serikat. Bandara Internasional San Francisco terletak di San Francisco Bay Area bagian selatan. Untuk ke tengah kota, harus menyeberangi San Francisco Bay Bridge. Jembatan ini menghubungkan Pulau Yerba Buena dan pantai Oakland.

San Francisco kota berbukit. Rumah dan gedung pencakar langit berdiri pada sebuah sisi bukit merupakan pemandangan biasa di San Francisco. Bahkan, hotel yang saya tempati, Hotel Sir Francis Drake, berdiri pada sebidang tanah dengan kemiringan sekitar 30-35 derajat. Beberapa pulau kecil menghiasi lansekap San Francisco. Seperti, Pulau Alameda, Yerba Buena atau The “Alcatraz” Rock.

Saya berkesempatan mengunjungi penjara Alcatraz. Angin musim dingin bertiup menyambut, saat saya tiba di dermaga. Jaket tebal, sarung tangan, topi penutup kepala, sepatu boot, seakan tak mampu melindungi kulit tropis saya. Angin menusuk hingga ke celah-celah pori-pori terdalam.

Melihat dan mengunjungi Alcatraz, ibarat mengunjungi legenda para legenda. Alcatraz melegenda karena ketat dan disiplinnya sistem pengamanan di penjara. Juga para tahanan yang pernah mendekam di sana. Penjahat kelas kakap seperti Al Capone, Robert Franklin Stroud atau Alvin Karpis, pernah mendekam di Alcatraz. Kombinasi itu jadi cerita tersendiri yang semakin menguatkan legenda Alcatraz.

Kisah Alcatraz bermula ketika seorang penjelajah Spanyol, Lieutenant Juan Manual de Ayala, memetakan San Francisco sekitar 1775. Ia berlayar menyusuri pantai dan menemukan beberapa pulau. “I name this land ‘La isla de los Alcatraces’ (Island of the sea birds). Because of their being so plentiful there.”

Tak heran bila kita berkunjung ke Alcatraz, ratusan burung camar terbang bebas dan hinggap di kapal feri. Juga di setiap sudut pulau. Mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran para pengunjung. Interaksi dengan manusia sudah terjalin ratusan tahun.

Alcatraz berada di tengah Teluk San Francisco. Luasnya sekitar 0,0763 km persegi. Kondisinya berbatu dan gersang. Tak banyak tetumbuhan. Air dingin dan arus berkisar antara 6-8 mph mengelilingi pulau. Kondisi itu membuat pulau tak berpenghuni.

Pemerintah menjadikan Alcatraz sebagai situs sejarah. Dinas Pertamanan Nasional Amerika Serikat mengelolanya sebagai taman wisata yang bisa dikunjungi, dan menjadi bagian dari The Golden Gate National Recreation Area.

Feri penyeberangan berangkat dari Pier 33. Jarak ke Alcatraz sekitar 1,5 miles atau 2,4 km. Butuh waktu 15 menit. Feri berangkat setiap setengah jam sekali mulai pukul 9.30 hingga 17.30. Pada wisata malam, feri berangkat pukul 18.25 sore dan 18.50.

Pengunjung harus antre untuk dapatkan tiket. Pemesanan juga dapat melalui internet. Besarnya 36 dollar. Anak umur 5-11 tahun, 26 dollar. Umur di atas 62 tahun, tiket seharga 34,50 dollar. Wisata malam ke Alcatraz beda tiketnya. Untuk umum 43 dollar. Anak-anak 29,50 dollar. Orang tua 40,50 dollar.

Nama tour itu ke Alcatraz Discover Alcatraz Escape A Tour of The Attempt. Waktu berkunjung setengah jam atau tergantung kepada Anda sendiri. Dari penjara Alcatraz, kita bisa melihat pemandangan kota San Francisco yang elok. Juga melihat Golden Gate Bridge dan San Francisco Bay Bridge. Sesuai namanya, Golden Gate terlihat kuning keemasan. Menjelang senja, warna kemerahan berpadu dengan warna kuning matahari yang menimbulkan warna sensasi dan unik.

Ada juga wisata keliling sekitar Alcatraz hingga Golden Gate Bridge. Wisata dengan kapal feri itu tak berhenti di penjara. Perjalanan wisata sekitar satu jam. Selama perjalanan, pemandu akan menjelaskan sejarah San Francisco dan Alcatraz.

Feri mendarat di sisi bagian timur Alcatraz. Begitu tiba di dermaga, pemandu akan menyambut pengunjung dan memberikan penjelasan mengenai Alcatraz. Setelah itu kita naik kr bagian atas penjara. Anda bisa menggunakan mobil wisata bergandeng atau jalan kaki. Jaraknya sekitar 40 meter menuju blok pertama.

Di sepanjang jalur ini, terdapat menara penjaga. Ada pos jaga petugas. Ada perumahan petugas penjara. Sebagian rumah dalam kondisi bagus. Namun, ada juga yang sudah rusak karena pernah dikuasai demonstran dari suku Indian.

Ada beberapa pemberhentian tour. Setiap pemberhentian, pemandu menjelaskan cerita seputar tempat itu, dan usaha pelarian para tahanan. Pemberhentian pertama, dermaga kedatangan kapal feri. Kedua, di rumah penjaga. Ketiga, gedung di depan mercusuar. Keempat, di kamar tahanan. Kelima, Blok B sebelah utara ujung. Kelima, Blok D. Keenam, Blok C. Ketujuh, Blok B.

Ruangan masuk pertama berisi ruang kontrol dan ruang tunggu bagi pengunjung. Setelah itu masuk ke ruang tahanan utama. Begitu masuk ruang tahanan utama, terlihat deretan besi bulat menutup kamar tahanan. Setiap pintu besi dibuat berlapis bagi pengamanan yang maksimum. Setiap jendela diberi teralis besi bulat seukuran jempol orang dewasa.

Ada ruang laundry bagi tahanan. Juga ruang mandi air panas. Ada banyak kran dan pancuran. Ada sebuah cerita, bila tahanan terbiasa mandi pakai air panas, mereka tak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi air dingin, saat mereka mencoba melarikan diri.

Alcatraz memiliki empat blok ruang tahanan. Blok A, B, C dan D. Setiap blok terdiri dari tiga lantai. Ruang potong rambut dan interogasi ada di Blok A di sebelah timur. Blok B merupakan blok pembinaan bagi mereka yang baru datang. Biasanya tahanan menempati Blok B selama tiga bulan pertama. Ini masa awal perkenalan di Alcatraz. Antara Blok C dan D terdapat jalur utama yang diberi nama Jalan Broadway. Ini jalan terpanjang di New York City.

Blok D paling diawasi. Para penjahat kelas kakap, berisiko kabur atau ribut dengan narapidana lain, ditempatkan di Blok D. Al Capone pernah menempati Blok D. Di samping Blok D terdapat ruang perpustakaan.

Ruang makan terdapat di sebelah barat. Ada ruang olah raga, mandi, pakaian dan perbaikan, gudang, ruang latihan main musik dan lainnya. Khusus ruang makan, pada bagian atas bangunan terdapat selang gas air mata. Bila ada kerusuhan di penjara, gas air mata bisa diaktifkan dari ruang kontrol penjara.

Kita bisa mendengarkan sebuah audio berisi cerita seputar Alcatraz. Semua itu bisa dinikmati dalam lima bahasa. Yaitu, bahasa Inggris, Spanyol, Jepang, Jerman dan Italia. Lama rekaman sekitar 30 menit. Rekaman berisi berbagai cerita dan testimoni para tahanan, sipir penjara, keluarga tahanan atau keluarga pegawai. Pengemasan audio sangat bagus. Bahkan, ketika kita mendengar cerita mengenai kisah para tahanan, derit pintu dibuka terdengar sangat jelas. Membuat kita yang mendengarnya, seolah-olah hadir dan ada dalam cerita tersebut.

Pada bagian akhir ruangan terdapat cendera mata. Ada baju, pin, mug, botol, dan berbagai pernah pernik dengan gambar atau logo khas Alcatraz. Lucunya, sebagian besar cendera mata itu buatan China.

Menurut booklet Discover Alcatraz Escape A Tour of The Attempt, Alcatraz awalnya benteng pertahanan. Militer menganggap perlu membangun benteng dan menempatkan meriam di Alcatraz. Sebab, Alcatraz menjadi salah satu pintu masuk ke Teluk San Francisco. Benteng pertama kali berdiri pada 1853. Selain Alcatraz, ada dua benteng pertahanan dibangun. Namanya Fort Point dan Lime Point. Tiga benteng tersebut menjadi penjaga bagi wilayah San Francisco. Militer juga membangun mercusuar. Kelak mercusuar ini merupakan yang tertua di wilayah pantai barat Amerika.

Pada 1859-1933, militer menggunakan Alcatraz sebagai penjara militer. Para tahanan menerima berbagai macam instruksi. Sekitar 70 persen menyelesaikan masa tahanannya dengan baik. Tetapi banyak juga yang mencoba kabur dari Alcatraz.

Pada 1877, sembilan tahanan melarikan diri ketika dipekerjakan di San Francisco. Mei 1878, dua orang tahanan menggunakan perahu dan meloloskan diri. Dan masih banyak kisah pelarian atau upaya melarikan diri dari para tahanan semasa dijaga militer. Banyak dari mereka yang mencoba melarikan diri, akhirnya tewas karena tenggelam atau ditembak petugas jaga.

Pada 1934, Departemen Kehakiman menggunakan Alcatraz sebagai salah satu penjara federal. Ada sebuah kebutuhan membuat penjara bagi para tahanan kelas kakap, untuk mengantisipasi gelombang kejahatan teroganisir yang berkembang di Amerika. Apalagi pada era 1920-an hingga 1930-an, depresi dan kolapnya perekonomian menciptakan kejahatan terorganisir yang membuat takut sebagian besar warga Amerika.

Tingkat huni Alcatraz tak lebih dari 300 orang. Biasanya 260-275 orang. Satu tahanan satu sel. Sipir memisahkan tahanan menjadi tiga kelas berdasarkan perilaku dan kejahatan yang telah dilakukan. Bila jumlah rasio penjara federal antara tahanan dan penjaga satu berbanding dua orang, maka di Alcatraz jumlah penjaga dan tahanan adalah, satu penjaga berbanding tiga tahanan. Karenanya, setiap sipir biasanya tahu dan kenal nama para narapidana.

Al Capone termasuk orang pertama dikirim ke Alcatraz. Ia tiba pada Agustus 1934. Al Capone menjalani penahanan selama empat setengah tahun di Alcatraz. Setelah itu, ia dipindahkan ke sebuah penjara di California selatan untuk menjalani sisa hukumannya. Orang yang biasanya mengacau dan menerobos berbagai sistem tersebut, harus mengakui sistem di Alcatraz. “I looks like alcatraz has got me licked.”

Selama 1934-1963, Alcatraz telah empat kali berganti kepala sipir penjara. Ada 1.576 tahanan yang diproses. Ada 90 petugas pemasyarakatan. Ada 53 aturan dan peraturan dibuat. Ada 14 usaha pelarian yang melibatkan 34 orang. Sebanyak 23 tertangkap. Enam orang tewas tertembak ketika melarikan diri. Dua tenggelam di laut saat melarikan diri. Dua orang yang tertangkap dan dieksekusi di kamar gas.

Hanya tiga berhasil lolos. Mereka adalah Frank Morris, Clarence Anglin dan John Anglin. Ketiganya melarikan diri pada 11 Juni 1962. Kisah pelarian mereka terekam dalam berbagai booklet atau informasi dari audio yang bisa didengar pengunjung. Bahkan, stasiun televisi kabel National Geographic membuat kisah dan cara ketiganya melarikan diri.

Pada 21 Maret 1963, Jaksa Agung Robert F. Kennedy menutup Alcatraz. Alasannya, biaya operasionalnya terlalu tinggi. Tiga kali lipat dari penjara biasa. Bayangkan saja, akibat tak ada pasokan air tawar, pemerintah harus membawa setidaknya satu juta galon air setiap minggunya ke Alcatraz dengan kapal. Polusi sampah turut jadi alasan penutupan.

Sekelompok orang Indian menduduki Alcatraz pada 1969. Mereka mengusulkan adanya pusat pendidikan, lingkungan hidup dan kebudayaan. Selama 18 bulan pendudukan, ada beberapa gedung rusak dan terbakar.

Kongres menetapkan Alcatraz sebagai bagian dari the Nasional Golden Gate Recreation Area pada 1972. Taman nasional itu salah satu yang terluas di dunia. Memiliki 75.000 acres dan 28 miles garis pantai. Tahun 1973, lokasi terbuka bagi umum. Operatornya The National Park Service.

Alcatraz mengilhami para sutradara dari Hollywood. Sejumlah film muncul dengan latar dan cerita mengenai pelarian atau ketatnya pengamanan di Alcatraz. Sebut saja film, Escape from Alcatraz, Alcatraz Island, Seven Miles From Alcatraz, Road to Alcatraz, Train to Alcatraz, Bird Man of Alcatraz, Murder in The First, The Rock, dan lainnya. Ada sekitar 40 film dengan latar dan cerita seputar Alcatraz.

Sebelum meninggalkan Alcatraz, sebuah dialog dalam film Escape From Alcatraz, antara kepala sipir, Warden (Patrick Mc Goohan) dan penjahat yang baru masuk, Frank Morris (Clint Eastwood), kembali mengingatkan saya:

“If you disobey the rules of society, they send you to prison. If you disobey the rules of prison, they send you to us.”***

Edisi cetak di Majalah Jalan-Jalan, Edisi Desember 2011.

Baca Selengkapnya...