Sunday, October 18, 2009

Para Penjelajah Kapuas

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Inilah tapak sejarah, yang menanda pada alat transportasi
Membentuk ciri dan kekuatannya yang khas
Menampilkan bentuk dan fungsinya,
untuk menjelajah alur dan sungai terpanjang ini.

Dialah para penjelajah Sungai Kapuas
Yang setia dan berbagi dengan lainnya,
Menapakkan punggungnya
pada coklat air yang kian keruh dan berlumpur


Para penjelajah itu, melayani kepentingan
ekonomi, wisata, budaya, pengamanan dan lainnya,
Dari para manusia yang seakan tak pernah putus kepentingannya.
Hingga pada akhirnya, tercipta yang baru dan membuang yang lama.

Begitulah teknologi terciptakan
Dan, Sungai Kapuas menjadi saksi
dari semua Perkembangan itu….


Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 18 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Wednesday, October 14, 2009

Selamatkan Hutan Kalimantan

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Kalbar punya kawasan hutan seluas 4.893.923 hektar. Kawsan itu tersebar dalam berbagai kawasan taman nasional, cagar alam, dan hutan lindung. Namun, dalam perkembangannya, kondisi hutan makin menipis akibat penguasaan hutan yang dilakukan melalui Hak Penguasaan Hutan (HPH). Parahnya lagi, hal itu hanya dimiliki oleh segelintir orang saja, melalui berbagai keistimewaan yang didapatkan karena dekat dan bisa masuk ke lingkar kekuasaan.

Akibat tak adanya kontrol dan kendali atas kekuasaan itu, semua yang ada di hutan terjarah dan hilang. Tak hanya kayu, juga berbagai habitat ada di dalamnya. Termasuk berbagai tanaman yang menjadi unsur penting bagi masyarakat yang mendiami hutan. Penggundulan hutan juga menghilangkan berbagai macam satwa di dalamnya.


Masyarakat yang berada di sekitar hutan, tak bisa memanfaatkan hasil hutan. Bahkan terpenjara karena aturan yang tak jelas, dalam berbagai hal mengenai pemanfaatan hutan, dan segala yang berada di dalamnya.

Padahal, hutan ibarat pasar swalayan yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat yang mendiami kawasan itu. Hutan juga menjadikan ruang interaksi bagi tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan, budaya, adat, obat-obatan dan lainnya.

Penebangan yang tak terkendali berakibat pada berbagai hal. Salah satunya adalah bencana alam yang selalu terjadi. Seperti, terjadinya banjir, tanah longsor dan lainnya. Fakta membuktikan, dalam beberapa tahun kebelakang, bencana banjir semakin sering terjadi. Padahal, puluhan tahun ke belakang, tak ada kabar mengenai banjir di Kalimantan.

Ini membuktikan bahwa kerusakan hutan semakin parah, mengakibatkan bencana bagi manusia itu sendiri. Harga yang harus dibayar bagi kerusakan dan bencana itu sungguh parah dan mahal. Tak hanya harta, bencana juga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Rusaknya infrastruktur jalan, jembatan dan berbagai fasilitas publik lainnya. Kerusakan ini tentu mengakibatkan kerugian besar jumlahnya. Bisa dibayangkan kerugian yang dialami Negara dan masyarakat.

Selain rusaknya lingkungan, juga harus membangun berbagai infrastruktur yang rusak. Juga hilangnya kesempatan ekonomi bagi warga. Belum lagi akibat yang dialami secara langsung. Misalnya dalam bentuk penyakit dan akibat bencana yang ditimbulkan.

Terlebih lagi bagi hutan di Kalimantan yang menjadi paru-paru dunia. Juga ada tiga Negara di dalamnya, Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia. Di wilayah ini, ada kawasan hutan seluas sekitar 22 juta hektar. Hutan itu merupakan sumber air bagi 14 dari 20 sungai utama di Kalimantan.

Kedepannya, bila kita tak sama-sama menjaganya, bisa dipastikan, benteng terakhir paru-paru dunia ini, juga akan hilang. Bisa dibayangkan, bagaimana akibat yang ditimbulkannya. Karenanya, menjadi kewajiban kita bersama, untuk menjaganya.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 14 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, October 11, 2009

Kampung Beting

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Seperti juga wajah wilayah lain di negeri ini,
wajah kampung ini, mirip dan sama nasibnya.

Tangan Negara melalui pembangunannya,
Tak menyentuh dan memberikan solusi,
bagi masalah yang sedang terjadi,
begitupun pada apa yang dibutuhkan warganya.

Semua dibiarkan berjalan dan tak ada rambu,
Sehingga menjadi liar dan tak terurus.
Kampung Beting ibarat jamban besar.
Semua yang dibuang dan dimasukkan
menyatu dalam satu wajan perkampungan.
Tak menyisakan nilai kebersihan, dan kesehatan bagi warga.

Padahal, bila Negara punya peran dan memberikan sentuhan,
Beting adalah keindahan. Mahkota yang siap dipoles dan menjadikannya bersinar.

Siap menampilkan pemandangan dan keindahan, dari setiap kelokannya.
Sebuah ciri khas perkampungan pinggir sungai,
dan kehidupan masyarakatnya yang dinamis.

Kampung itu menanti uluran dan penghapusan stigma. Kampung Beting, namanya…..

Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri

Edisi cetak di Borneo Tribune, 11 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Media dan Kepentingan Publik

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Seperti juga minggu atau bulan sebelumnya, kita sepertinya selalu disibukkan dengan berbagai masalah yang selalu datang dan terus berganti. Begitu cepatnya permasalahan datang silih berganti, kita seolah tak diberi ruang dan jeda untuk bernafas. Apalagi melakukan kontemplasi, perenungan atau melakukan evaluasi, terhadap berbagai permasalahan yang terjadi. Karenanya, kita tak pernah bisa fokus membedah sebuah isu dalam pemberitaan.

Bulan ini, media lokal dan nasional diisi dengan isu seputar Seruan Pontianak, gempa Padang, pemilihan pimpinan Partai Golkar dan isu terorisme.

Dari berbagai isu yang muncul itu, sikap media masih menunjukkan wajah dan prilaku lamanya. Pongah dan sombong. Seolah, dengan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki, media merasa berhak mengeluarkan informasi apapun yang mereka miliki.


Awak media merasa punya hak menjejalkan informasi sepihak, opini, demi kepentingan dan kebutuhan akan sebuah legitimasi di masyarakat. Ini dalam kasus Seruan Pontianak. Demi rating media melakukan apa saja dan klaim sepihak. Ini dalam kasus penyiaran berita gempa. Media mendukung dan memberikan porsi pemberitaan secara berlebihan. demi kepentingan para pemilik media. Ini dalam kasus pemilihan Ketua Golkar. Bahkan, demi kepentingan yang lebih besar atau agenda setting lainnya. Ini dalam pemberitaan isu terorisme.

Orang yang berhubungan dengan media, siapapun itu, mereka yang bekerja atau pemilik media, mesti sadar bahwa media merupakan ruang publik. Berita yang dimuat merupakan sebuah pertanggungjawaban kepada publik. Karenanya, ada standar dan kode etik yang diterapkan dalam profesi ini.

Meskipun kita sadari bahwa, ketika orang mendirikan media atau bekerja di media, punya beragam alasan dan kepentingan. Hal itulah yang membuat dialektika sebuah media di masyarakat. Pada perkembangannya, apakah masyarakat jadi percaya dan menerima berita yang disuguhkan? Apakah awak media ketika membuat berita, memenuhi prinsip-prinsip dasar dari sebuah penulisan berita? Tidak melanggar kode etik dan memenuhi prinsip fairness atau keadilan dan memikirkan dampak yang ditimbulkan?

Prinsip dasar itulah yang harus terus dipegang para pekerja dan orang mereka yang berhubungan dengan media. Bagaimanapun, masyarakat harus mendapatkan informasi yang baik, dari permasalahan yang terjadi. Bukan berita sepihak yang dibuat untuk menyudutkan, dan membela kepentingan media sendiri.

Bila prinsip-prinsip itu dilanggar, artinya media sudah melakukan pembohongan publik. Meminggirkan prinsip-prinsip keadilan berita. Menggunakan kekuasaan dan kekuatan media demi kepentingannya sendiri. Bila ini terjadi, masyarakat tentu bisa memetakan dan memilah, bagaimana mereka harus bersikap terhadap media yang bersangkutan.

Sebab, informasi tidak hanya dari media saja. Masyarakat punya banyak alternatif informasi. Yang menjadi jendela bagi mereka, untuk menentukan dan membuat sikap, tentang apa yang sedang terjadi dan bagaimana mereka harus menyikapi.

Media harusnya memberikan informasi yang baik, agar masyarakat bisa menentukan sikap, ketika mereka berhadapan dengan sebuah permasalahan. Sebab, begitulah sebenarnya fungsi media.

Naskah ini diterbitkan di Harian Borneo Tribune, 11 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, October 4, 2009

Tungku Naga

Muhllis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Sebuah tungku menghampar. Puluhan meter panjangnya.
Memanjang laksana naga. Siap memanggang dan mengeraskan,
semua yang bakal masuk. Menjadikannya liat dan keras.

Munculkan produk menawan dan mempesona,
bagi setiap mata yang memandang dan menjadikannya,
peranti pemercantik ruang dan tempat pribadi.
Menjadikannya keindahan yang mematri, bagi setiap mata yang memandang.


Tapi, tungku dan keramik naga itu mulai melemah.
Kurang mendapat tempat dalam pemasarannya.
Tersisih dengan barang sama dan murah yang makin menggempur.

Kini, semua mata harus mulai melihat,
pada geliat naga yang mulai lemah dan kurang tenaga.
Menyelamatkannya dari segala bala dan kehilangan arti keindahan,
Sang Tungku dan Keramik Naga.

Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri
edisi cetak ada di Borneo Tribune edisi 4 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Wednesday, September 30, 2009

Waspada terhadap Muntaber

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Sungai, selain menjadi urat nadi perekonomian, juga menjadi pasokan air minum. Berbagai kehidupan di Kalbar, tak bisa dipisahkan dengan kehidupan sungai. Sungai melebur dengan warga, menciptakan suatu harmoni. Ada berbagai budaya dan tradisi lahir, karena kedekatan manusia dengan sungai.

Namun, saat musim kemarau tiba, biasanya sungai di berbagai daerah di Kalbar, alami kekeringan. Kekeringan menciptakan pola interaksi yang berubah. Misalnya saja dalam masalah penyediaan air bagi kehidupan warga. Sungai merupakan sumber mata air bagi segala kehidupan yang dibutuhkan bagi kehidupan yang harus dijalani.

Karenanya, musim kering membuat pasokan air bagi warga menjadi terkendala. Dengan berkurangnya air sebagai pasokan warga, tentu saja berpengaruh terhadap kesehatan warga.

Dengan berkurangnya air, membuat pola hidup dan sanitasi menjadi kurang maksimal. Bahkan, kekurangan air bersih juga membuat warga alami berbagai penyakit. Salah satunya adalah muntaber.

Hal ini, tentu perlu penanganan yang baik. Pemerintah melalui dinas dan instansi terkait, mestinya segera mempersiapkan berbagai langkah, untuk mencegah terjadinya korban di masyarakat. Ini harus dilakukan, agar warga yang sudah alami berbagai kesulitan hidup, tak lagi harus menanggung dan mengeluarkan uang dalam jumlah besar, bagi biaya pengobatan yang mereka lakukan.

Selain itu, pemerintah juga harus berupaya dan lakukan pencegahan, agar muntaber tak meluas dan jadi bencana. Dengan cara itu, korban dapat dihindari dan sebisa mungkin, dapat ditekan jumlahnya.

Penangangan yang dilakukan harusnya tak terbatas pada bidang pengobatan saja. Pemerintah harus sedari awal, memberikan berbagai sarana dan sarana yang bisa digunakan warga. Agar, mereka bisa menjalani pola hidup yang lebih baik. Salah satunya dengan fasilitas air bersih.

Kalbar yang memiliki sumber air melimpah, karenanya harus dijaga dengan baik. Sehingga air yang menjadi sumber kehidupan, tidak tercemar dan rusak kualitas airnya.

Ini tentu saja bukan peran pemerintah saja. Semua harus berperan menyelamatkan sumber air baku bagi kehidupan. Sehingga semua bisa hidup lebih layak dan sehat. Dengan hidup sehat, tentu saja berpengaruh pada produktifitas warga. Sehingga berbagai roda ekonomi, sosial, politik, dan lainnya dapat tumbuh dengan baik.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 30 Septemebr 2009

Baca Selengkapnya...